SC-RT 17
Rambut
sewarna kayu eboni dan iris aquamarine itu adalah daya pikatmu. Sumber
keunikanmu. Citra secara fisik yang mampu menawan siapapun. Elok parasmu tak
jadi kilauan sejak kau memilih mengisolasi dirimu. Mengapa ?
Apa
karena dirimu tak nyaman dengan kultural dan kebudayaan sosial ? Atau karena
sesuatu yang mengganggu namun tak bisa kau bagi pada siapapun ?
Ranjang
King size bergoyang pelan. Sosokmu bergerak gelisah diatas sana. Ada gurat
kebimbangan yang hinggap. Ada kecemasan yang meluap tanpa dapat kau cegah. Pada
akhirnya kau mencoba menahan suaramu. Kedua lenganmu mendekap erat pada setiap
samping tubuhmu. Kedinginan kah ? Atau hal lain ? Kau bahkan tak berucap.
Memang tak pernah ingin buka suara.
"Aku
kenapa ?"
Bisikan
lirihmu mengundang rasa penasaran. Mencoba memahami seluk beluk penyebab hati
yang tiba-tiba berontak memusingkan. Mual. Itu yang kau rasakan. Sampai dirimu
yang hendak beringsut kembali terjembab. Tidak. Sejujurnya kau ingin bercerita
pada siapapun. Sesungguhnya maumu berbagi rasa dengan semua pihak. Membuka
semua puing yang mengoyak sepersekian detik secara mendadak. Semua emosinya tak
beraturan. Tak terdefinisi secara gamblang. Takut.
Matamu
bergerak cepat, melrik setiap penjuru ruangan yang bisa termonitori.
"Aku
tidak mengerti perasaan ini. Siapa saja tolong sadarkan aku !"
Berucap
demikian kau mengatupkan bibirmu rapat. Kaget dengan refleksitas kata yang
keluar dari tubuhmu. Kau mulai bergerak tak peduli jika hatimu terus menerus
berontak. Air.
Tetesan
air perlahan melewati helaian rambut ebonimu. Tak seperti biasa, detak
jantungmu tak melambat nol koma sekianpun. Meski air terus kau coba guyur ke
seluruh tubuhmu. Tak ada sensasi menenangkan yang kau cari. Tubuhmu bergetar,
bibirmu memucat. Kau baru saja menggigil kedinginan. Aksi yang kau ciptakan
memberikan reaksi yang sama sekali tak kau harapkan.
.
.
"Kau
baik-baik saja kan ?"
Seorang
wanita paruh baya memberondongimu dengan banyak pertanyaan. Dia kau kenali
sebagai ibumu. Kondisimu begitu mengenaskan. Tentu saja terguyur air selama
lebih dari enam jam bukan sesuatu yang bagus untuk kesehatan. Hipotermia.
"Aku
selalu menghabiskan waktu dikamarku sendirian sejak liburan semester ditahun
kedua. Aku merasa banyak memiliki kejanggalan. Aku canggung menghadapi orang
lain. Emosiku sering meluap tak karuan ketika aku mencoba mengendalikannya. Aku
adalah gadis yang cengeng tapi aku tak bisa menangis atas kesedihanku. Aku
tidak tahu mengapa aku disini. Apa yang harus kulakukan ?"
Bermonolog
dan berdelusi bersamaan. Menganggap bila gumpalan oksigen dikamarmu membentuk
materiil nyata. Bersikap seolah ruangan sempit ini adalah satu-satunya tempatmu
berpijak. Kesepian kah ? Tertekan kah ? Gangguan mentalkah ? Kau tak bisa
pahami sedikitpun. Dirimu hanya terus
mengulur waktu, bertanya tanpa tahu jawabannya.
.
.
Kutemukan
napasmu memburu, detak jantungmu dua kali lipat berpacu. Kau bangkit dari
peraduan, kaki mungilmu menuju sebuah wastafel di dalam kamar mandi. Mual.
Semua dunia yang kau pandang berputar tak terkendali. Justru sialnya lagi
ketika direksimu menangkap muntahanmu sendiri kau semakin mual. Rambut sebahumu
berantakan, wajahmu pucat parah. Meski begitu Sedikitnya kau tahu bila tubuhnya
perlahan menyusut. Sebenarnya apa yang terjadi padamu.
"Hei,
mengapa aku hidup ? Apa yang kumau ? Apa yang kusuka ? Apa yang bisa membuatku
bahagia ?"
Suaramu
parau, sepertinya kau terbebani sesuatu. Tapi apa ? Jelas bahwa kau sendiri tak
mengerti jawabannya.
.
.
Pagi
itu kau melangkah keluar kamarmu. Ruangan gelap berantakan yang cukup pengap.
Tak ada sinar mentari yang menembus jendela. Karena ruangan ini sama sekali
tidak memiliki akses ke dunia luar. Dan ketika untuk pertama kalinya kau
berpijak. Kau merasakan 'sedikit' kebebasan. Langkahmu kemudian beriring dengan
jalanan raya yang dipenuhi mobil bergas monoksida. Namun itu tak lebih menarik
dari sebuah toko di sebrang sana.Sebuah tempat dengan bau yang khas. Toko kecil
dengan etalase yang memamerkan beragam obat. Apotek.
"Apa
yang kau ingin beli ?"
"Aku
mengalami sakit kepala dan mual bahkan tubuh bagian belakangku sakit"
Apoteker
wanita itu nampak berpikir sebelum memberikan sejumlah obat. Dia meramu dan
memberimu bungkusan berisi obat yang kau butuhkan. Tanpa basa-basi kau
menerimanya dan bergegas pergi. Tak mengindahkan tatapan khawatir sang apitoker
yang memandangmu dengan alis berkerut.
Tiba
di tempatmu. Hampir setengah kalap kau menelan pil warna-warni itu bersamaan.
Tapi tidak membantu. Apa yang kau rasakan tak berkurang, jadi bukan sakit ?
.
.
"Perasaan
ini apa ? Mengapa aku merasakan perasaan tak menentu seperti ini ?"
Kau
bodoh ! Tak akan ada gunanya jika kau terus bicara sendirian. Kenapa dirimu
diliputi ketakutan ? Ada keputusasaan yang tersirat pada air mukamu. Iris
aquamu bahkan lebih mendung.
"Pada
akhirnya aku tidak tahu apa-apa. Aku takut dengan kenyataan. Entah itu
Eccedentesiast kah atau Antisosial atau bipolar atau bahkan amnesia. Aku tak
mau tahu. Aku takut"
Keadaanmu
begitu menyedihkan. Pada akhirnya kau hanya mampu bergulat dengan rasamu.
Menyimpan semua dukamu sendiri. Tak pernah mengeluh apapun. Hanya sendirian.
Mengingatnya membuat hatimu sakit benarkan ? Tapi mengapa kau tak menunjukan
sedikitpun air matamu ? Oh, ya. Kau sedang mengalami syndrome tak dikenal.
Sesuatu yang hanya bisa kau tahu. Rahasia kecilmu. Amnesia.
FIN

Komentar
Posting Komentar