A Woman With The Violet Eyes



Aku bertemu gadis itu ketika usiaku beranjak lima tahun. Saat itu keluarga kami mengadakan perkemahan musim panas di sebuah hutan. Keluargaku memang sekumpulan orang-orang pecinta alam. Begitu juga dengan kakak perempuanku yang usianya baru beranjak tujuh tahun. Dia selalu berisik dan berteriak histeris bila melewati objek aneh yang tak pernah dilihatnya.

"Lihat ada tupai terbang !"

Satu lagi teriakan tak penting yang ke sepuluh kalinya. Lagipula mengapa pula orangtuaku membawa mahluk berisik ini untuk berkemah ?

"Ayolah adik kecil katakan sesuatu yang bisa membuat kakak perempuanmu ini semangat !"

Dia memelukku erat dan memutar-mutar badannya. Membuatku ingin muntah.

"se-sak."

"Ups, maaf."

Akhirnya setan kecil ini berhenti memperlakukanku seperti mainan. Sebetulnya Kami bukanlah keluarga bahagia dan harmonis seperti yang terlihat. Ayah ibu kami hanya sejenis orang kesepian dan kecewa karena masa lalunya. Kemudian secara kebetulan bertemu dan mengikat janji suci hingga terbentuklah hubungan keluarga ini. Bisa dipastikan bila Ayahku yang sekarang adalah ayah tiri dan naasnya dia membawa iblis kecil itu sebagai kakakku. Yang artinya kami hanya saudara tiri.

.
.

"Ran, bisakah kau mencari ranting ? Ibu akan memasak untuk kita."
Usai mendapat tempat yang pas dan mendirikan tenda ibuku menyuruhku menunda pekerjaanku. Main game.

"Baik."

Aku menyimpan PSP ku kedalam tas. Dan mulai menjauh dengan enggan.

"Jangan jauh-jauh."
Teriaknya sekali lagi.

Ya, Setidaknya kegiatan ini bisa menjauhkanku dari kakak perempuanku yang menjengkelkan untuk sementara waktu.
Suara daun yang bergemersak membuatku sedikit terkejut.
Tapi aku belajar dari ibu aku tak boleh berteriak disaat seperti ini. Sebisa mungkin aku akan tenang dan mencoba untuk mengendap ke sumber suara.
Dan dengan bodohnya aku lupa menandai tempat ini hingga justru bayangan mengerikan muncul. Aku tersesat.

Tapi, aku mendapat imbalan dari petualangan kecilku. Dibalik semak Aku menemukan gadis yang lebih tua dariku. Kuperkirakan usianya belasan tahun. Dia sedang terduduk dibawah pohon besar. Rambutnya berwarna perak panjang. Dress nya yang berwarna putih sedikit kotor oleh lumpur. Meskipun begitu dia tetap terlihat cantik.

Ya, malah sangat Cantik.

Buru-buru aku memalingkan muka. Ayolah aku hanya bocah lima tahun ? Apa yang kutahu tentang perempuan ?

"Kenapa berdiri disitu ? Apa kamu tersesat ?"

Perempuan itu menghampiriku. Tinggi sekali, dan kulihat sekilas warna iris matanya violet teduh. Perpaduan yang cantik.

"Tidak. aku hanya mencari ranting. Dan kurasa aku memang sedikit tersesat."

Aku mencicit diakhir kata. Enggan mengakuinya namun itu benar. Wajahku yang semula terunduk Perlahan kuangkat bermaksud melihat wajahnya. Terkejut, itu yang kudapati saat aku melihat kearah depan. Tentu saja karena tiba-tiba saja wajah Kakak itu begitu dekat. Kurasa saat aku menunduk tadi dia mengambil kesempatan untuk berlutut.

"Jika itu yang terjadi kurasa aku akan mengantarmu."
Senyum mengembang diwajahnya yang putih bersih.

"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri."
Tangan mungilku dicengkram olehnya. Dia tersenyum lagi.

"Tidak sopan menolak pertolongan orang lain. Dan berjanjilah jangan melepaskan tanganmu."

Dan detik berikutnya aku melemahkan penjagaanku pada orang asing ini. Meski ibuku selalu bilang kalau aku tak boleh percaya pada orang tak dikenal. Walau begitu aku rasa gadis ini orang baik. Dan aku tidak sadar jika diam-diam memoriku menyimpannya sebagai kenangan kecil yang indah.

.
.

"Ran, kau melamun lagi."

Suara lelaki yang tak perlu lagi kulihat wajahnya. Felix, teman yang duduk didepanku dan amat senang mencerecoki hidupku.

"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan. Tapi kau tahu kalau tahun keduamu ini kau cukup populer."

Dia memutar tubuhnya hingga kami berhadapan. Dan mulai bercerita dari A-Z.

Itu benar hidupku sudah berjalan 12 tahun sejak pertemuanku dengan gadis misterius itu. Dan nampaknya aku cukup tertarik mengenai dia sekarang. Dari usia kukira usianya sudah puluhan tahun sekarang. Dan aku terkikik geli. Bukankah aku benci wanita yang lebih dewasa ?

"Kau mengacuhkanku lagi. Apa kau punya masalah ?"

Felix menggerutu lagi. Wajahnya yang sebal membuatku tergelitik untuk tertawa.

"Aku sedang tidak fokus belakangan ini jadi-"

"Apanya yang tidak fokus ?! Kemarin kau mendapat nilai sempurna diujian fisika. Itu yang kau sebut tidak fokus ? Dasar sombong!"

Ya, setidaknya aku memiliki satu dari sekian murid yang mengerti keadaanku.

.
.

Musim gugur, semua orang mulai beralih ke baju yang lebih hangat. Bukan apa-apa hanya saja udara cukup dingin dibanding musim panas atau semi.

"Anu, Senpai."

Aku menoleh dan kudapati gadis berkucir dua dibelakangku. Wajahnya memerah malu. Dibelakangnya pula aku melihat Felix mengedip kearahku. Ah, jadi ini yang dimaksudnya musim 'panen'. Menghela napas sebentar lalu kuputuskan mengikuti gadis itu.

"Jadi apa yang ingin kau bicarakan ?"

Aku memandangnya setengah hati. Jujur saja aku tak suka diganggu dalam perjalanan pulang.

"Aku suka senpai."

Memang sedikit terbata dan bergetar. Tapi aku bisa menangkapnya dengan jelas. Mengesampingkan rasa malu gadis itu. Aku harus cepat.

"Maaf, aku tidak bisa. Aku tidak punya alasan untuk menjawab 'kenapa' darimu. Kurasa aku akan pulang sekarang."

Aku meninggalkan gadis itu yang kupastikan menangis detik itu juga. Ini semua benar-benar merepotkan.

PLAKKK

Tepukan kasar dibahuku. Dan aku tahu pelakunya siapa.

"Apa yang kau lakukan bodoh ? Dia itu adik kelas kita yang paling imut, dan kau MENOLAKNYA !!"

Telingaku berdenging kencang. Felix memang tak bisa membaca keadaan dan suka bicara sesuka hatinya.

"Apa salahnya aku tidak tertarik."

"Itulah kesalahanya. Kenapa tidak tertarik ? Jangan bilang kalau selama ini kau diam-diam jatuh cinta padaku. Tidak terimakasih aku normal."

Ocehannya kali ini membuatku muak.

"Hal menjijikan apa yang kau bicarakan. Tentu saja aku juga normal."

Aku berkata sambil menjauhinya. Terkadang aku juga muak terlalu lama dengannya.

.
.

"Selamat datang Ran-chan."
Pelukan kakak perempuanku membuatku sesak. Apalagi ini sudah berjalan selama dua belas tahun. Apa dia tak sadar jika bentuk tubuhnya sudah berubah ?

"Menjauhlah. Berhenti memperlakukanku seperti itu."

Aku menjauhkan diri. Terduduk diambang pintu sambil mencoba melepas sepatuku dengan normal.

"Kau selalu marah jika aku melakukannya."

Rupanya dia masih berdiri dibelakangku. Dan kutebak wajahnya pasti mengembung layaknya ikan fugu.

"Karena Nee-san sudah dewasa. Apa Nee-san tidak malu melakukan hal seperti itu padaku ?"

Aku berjalan melewati dirinya. Tapi sungguh tak terduga dia malah mengikuti. Berusaha mencari perhatian dariku.

"Ayolah, kau adiku dan tidak ada yang salah dengan itu."
Dia berhenti mengikutiku ketika aku sudah berdiri di anak tangga ke lima menuju kamarku.

"Itulah yang salah Nee-san. Kenyataan tidak akan berubah. Kita bukan saudara kandung. Jujur saja aku risih."

Dan dengan itu aku meninggalkannya. Aku tidak peduli bagaimana tanggapannya. Karena itu aku tetap menutup pintu kamarku. Bukankah kakakku yang terlihat tidak wajar ?

.
.

Tidak ada yang berubah. Aku tahu itu, sekali lagu Sayang sekali, nyatanya tak ada aksi yang bisa membuatku bereaksi.
Dan yang justru berubah adalah hoby ibuku yang raib begitu saja. Itu terjadi Sejak aku 'dikira' menghilang. dia tak pernah lagi merencanakan perkemahan bahkan menyinggungnya. Dia merasa bersalah atas kejadian itu. Dan itu membuatku tak bisa bertemu dengan penyelamatku. Gadis berambut panjang itu.

Aku sudah berusaha menjelaskan pada ibu jika aku tidak menghilang. Tapi ibu bersikeras untuk tidak membahasnya. Dan tentu saja cerita mengenai gadis misterius yang kutemui dihutan dianggap karanganku. Itu menyebalkan.

.
.

"Pagi Ran, ada yang menarik untukmu pagi ini."

Felix memulai aksinya berceloteh lagi. Aku ragu dia laki-laki karena dia begitu cerewet dan hoby menguping pembicaraan perempuan.

"Kau tahu Siori-senpai dari kelas 3 ?"

Pancingan yang  to the point.

"Tidak."

Dan kulihat ada raut tidak suka dari wajahnya.

"Pekalah sedikit tuan tampan. Menurut gosip dia tak pernah pacaran biarpun dia cantik. Kau mau bertaruh ?"

Dia menaikan alisnya.

"Untuk apa ?"

"Aku  yakin kau akan tertarik dengan yang ini."

"Pede sekali."

 Dan obrolan menyenangkan sepihak ini pun berakhir karena ada guru yang masuk. Kubilang sepihak karena yang menganggap ini menyenangkan hanya Felix.

.
.

Istirahat makan siang kuhabiskan diatas atap. Tak ada yang tahu aku disini termasuk Felix. Lagipula tak ada siapapun yang repot-repot naik keatas atap. Kecuali aku tentunya.
Aku ingin menghilangkan omongan felix mengenai Siori-senpai ini itu yang tidak kumengerti. Sejujurnya dia hanya tak paham aku tak tertarik pada perempuan bukan karena aku Maho atau gagal Puber. Ini adalah sesuatu yang kujaga. Sesuatu yang kupastikan hanya aku yang mengetahuinya.

Setidaknya melihat pemandangan langit biru dengan suasana yang sepi dapat mengobati rasa sepiku. Meski pada suatu ketika aku harus mendengar langkah kaki asing. Tentu saja, sepatu murid tak bersuara macam itu. Ini terasa lebih menghentak dan bergema dilorong jelas dapat dipastikan adalah bunyi khas sepatu 'heels'. Dan kalau aku tak salah tebak ini pasti akan menjadi masalah. Aku bermaksud beranjak dari sana namun ketika pintu atap dibuka sesuatu yang kasat mata  menahanku. Pandanganku memaku kearah siluet seorang wanita dewasa yang berdiri disana. Rambut perak panjang yang tertiup angin, juga iris violetnya. Tidak salah lagi.

"hm."

Aku bereaksi begitu kalem. Seolah bukan masalah besar. Tapi, tentu saja jantungku berpacu lebih cepat. Aku tak bisa memastikan ini mimpi atau bukan tapi yang kulihat dia nampak tak terganggu dengan keterkejutanku. Dia justru tersenyum simpul dan mendekat. Jujur aku tak tahu apa yang mesti kulakukan disaat seperti ini. Aku benar-benar sorang yang kikuk. Sampai kurasakan dia berdiri sejajar denganku dalam jarak tiga hasta. Cukup dekat membuatku berdebar.
Aku mencium bau lavender dari tubuhnya. Dan aku sadar bahwa aku telah tumbuh pesat karena tinggiku dengannya sama. Itupun karena dia menggunakan high heels.

"Aku menemukanmu."

Entah apa yang merasukiku hingga aku berani memeluk wanita ini begitu posesif. Sungguh, apa kau percaya jika bocah berusia 5 tahun juga mengalami cinta pandangan pertama ?


FIN

Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 cara mengatasi galau

I Think I am in Love

SC-RT 17