Growl
Bukankah kesabaran memiliki
batasan ?
Bukankah sebuah pengharapan juga
tak selamanya dapat diandalkan ?
Bukankah aku sendiri hanyalah
seonggok manusia yang fana ?
Disatu sisi akan menyakiti hati
Disisi lain malah justru
memperlihatkan kelemahan pada yang lain
Ah, mungkin inilah yang dikatakan
sebagai kebimbangan.
Sebuah dering
khas dari benda kotak yang berkedip mengalihkan atensiku sepenuhnya. Pekerjaan
yang tengah kugarap tertunda sementara.
Kemudian tak sampai beberapa detik benda itu kembali bordering, lagi dan lagi.
Seolah mengejekku dengan caranya. Meski dihina oleh benda mati, aku yang bodoh
tergerak untuk mengintip. Pesan dalam beberapa aplikasi membuat laju ponselku
melambat. Semua mungkin disebabkan aplikasi itu tak bisa secara bersamaan
menerima pesan berantai yang entah mengapa sore ini begitu mengganggu.
Ah.. belum
sempat membaca untaian kata tersebut secara utuh, aku malah memilih membuangnya
kesisi tempat tidur. Tiba-tiba perutku terasa melilit dan mencengkram seluruh
nafasku dengan tarikan tak kasat mata. Sama seperti yang sebelumnya, aku selalu
menerima kabar baik bagi mereka yang
bisa dengan cepat mengaplikasikan hasil selama menunutut ilmu. Bohong besar
bila aku tak peduli, omong kosong bila kukatakan aku tak sakit hati. Aku memang
mengharapkannya, tapi panggilan itu tak pernah datang bahkan hingga hari
berganti hari.
“Kamu menerima
panggilan ?”
Pertanyaan yang
sama dengan berbeda orang yang bertanya, sesaat aku merasa sebal karena
kepedulian mereka yang bagiku terlihat seakan menertawai ketidakberhasilanku.
Aku tahu, jika saat ini aku terdengar begitu mengerikan. Tapi aku tak bisa
begitu saja tertawa santai saat setiap orang bertanya hal yang sama. Apa itu
menyenangkan bagi mereka ?
“Mungkin belum
rezeki, sabarlah. Tak lama lagi kamu juga akan dapat panggilan.”
Tepat ketika
pesan itu terkirim aku menertawai diriku sendiri yang terlihat natural
memainkan peran sebagai si tenang yang tak kenal problematika. Kata-kata
penghiburan sesungguhnya sedang kubutuhkan, tapi disaat terbawah hidupku. Semua
orang justru menjauh.
Aku tidaklah
buta meski sering kali terlihat tidak peka. Aku membuat diriku berbaur dengan
alami tanpa perlu membuat mereka terganggu. Tapi dibalik setiap sikapku rasanya
aku hanya menjadi tempat persinggahan yang dibutuhkan ketika hidup mereka
berada dalam masalah. Kemudian dengan segala topeng yang kupunya aku akan
memulai untuk memberi penghiburan dan membantu memecahkan masalah mereka hingga
senyum kembali mekar. Tepat setelah itu mereka akan pergi dan aku yang tertawa
karena bodoh.
Malam itu aku
menangis, tertutup oleh kedua tanganku. Duduk bersimpuh di atas gelar sajadah.
Mengadu atas segala keluh kesahku. Kepalaku berdenyut sakit. Dibalik segala
kata yang terucap tentu saja aku masih sadar jika aku juga sama bajingannya
dengan mereka. Meminta pertolongan tanpa imbal jasa, dan lagi aku melakukannya
pada Sang Khaliq. Betapa menyedihkannya diriku.
Apakah jika aku
berusaha untuk maju itu adalah sebuah kesalahan yang tidak termaafkan ? apakah
aku tak bisa berbuat apa-apa hanya untuk sekadar membuat raga ini cukup
dihargai orang ? apakah dalam kondisi apapun aku hanya harus duduk diam,
tersenyum, dan berkata hal yang baik sedangkan aku juga tersiksa ? yang benar
saja !
Bahkan ketika
hatiku berseru “sudahlah jangan buang waktu dengan terus memberikan segala
curah dan tenagamu.” Apakah aku harus tetap membiarkan pengharapan menggelayuti
benakku ?
Sayangnya aku
bukanlah mereka yang dengan mudah melupakan.
Ini aku, hidupku
yang terlampau hambar kemudian meruncing karena tak bisa mendapatkan pekerjaan
selepas lulus.
Aku ingin
mendapatkannya dengan menunggu karena kupikir aku telah melakukan usaha yang
maksimal. Tapi kenapa ?
Mengapa aku tak
dapat mendapatkan panggilan sedang kupikir aku telah berbuat sebisaku ?
Apa bekerja
keras adalah dosa ? Apa karena fisik yang tak menyentuh angka seratus lima
puluh delapan centimeter lantas aku tak pantas ?
Aku, diriku,
hidupku mencoba menuntut kebahagiaanku !
Tidak. Bukan
dengan bualan, omong kosong apalagi menunggu pengharapan menjemputku.
Hanya dengan
jalanku. Melangkah maju secara pasti tanpa harus menoleh pada seseorang yang
kuberi kesempatan tapi tak mau mengambilnya.

Komentar
Posting Komentar