I Think I am in Love



Sejak dahulu aku tidak pernah menganggapnya ada. Tidak, meski tiba-tiba keberadaannya menjadi buah bibir di divisi tempatku bekerja. Smith, Edmund, bahkan Steve yang kutahu sudah memiliki kekasih. Secara mendadak berubah menjadi pria nakal tukang menggoda. Kejadian ekstrim itu berulang-ulang dan terjadi dalam kurun waktu tidak sebentar. Tepatnya tiga bulan sejak perempuan itu menjejakan kaki di perusahaan sebagai manager marketing. Kedudukannya yang dipenuhi ketiganyalah yang menyebabkan dia mendadak menjadi selebritis. Tidak hanya itu mereka juga menjulukinya Princess Charming. Namun sungguh aku tak mengerti apa yang mengasikan dari perangai perempuan itu ?
Pukul enam belas lewat empat puluh lima tujuh menit. Kurasa aku akan bermalam lagi. Jam pulang kantor telah terlewati, hiruk pikuk rekan kerjaku berangsur hilang. Mereka telah lebih dulu pamit untuk mulai mengurusi kehidupan pribadi masing-masing. Aku juga sebetulnya tak begitu memiliki pekerjaan penting yang mesti diselesaikan hari ini. Laporan keuangan selalu menumpuk jika mencapai akhir bulan, sisanya pasti dengan cepat bisa aku selesikan. Tapi mengingat aku tak begitu memiliki urusan pribadi dan dari pada aku mati bosan di apartemen, aku memutuskan untuk tinggal lebih lama dari pada yang lainnya. Jika orang mungkin akan cepat pulang ke rumah untuk bisa bersantai, mungkin juga berkencan, atau hal lain yang hanya bisa dilakukan sepasang suami istri. Tentu bagiku pilihan kedua dan ketiga bukan alasan yang pas. Aku hanya seorang pria lajang diusia dua puluh lima tahun yang hoby bermain game online dikantor. Ah, peduli amat !
Kedua kakiku bermaksud melangkah menuju pantry di dapur. Membuat kopi adalah rencana awal sebagai pendamping setia sambil bermain game online. Namun ada yang lebih menarik, suara dengkur halus mampir dalam indera pendengarku. Terlalu jelas sebab sepi telah menjadi suasana yang terjadi. Ada rasa yang hinggap ketika perlahan menatap sosoknya. Rambut hitam sebahu yang acak-acakan, juga kacamata berframe coklat tergeletak di atas meja kerja dimana seonggok tubuh menimpa meja berantakan itu. Namun otakku tak butuh waktu untuk memperkirakan sosok yang tengah tertidur disana. Hanya ada satu mahluk, berkaca mata dengan ciri khas rambut raven seperti itu. Jawabannya hanyalah Qengie. Perempuan yang sudah menjadi sorotan diantara rekan kerjaku. Mendekat, sebuah keputusan yang kemudian aku ambil. Sebelumnya aku tak pernah berada di situasi seperti sekarang, mengingat pengalamanku yang minim dengan wanita. Ah, sudahlah. Sedetik kemudian tanganku menggapai pundaknya. Bergetar, dan kuakui jemari sialan ini seperti pengecut. Sekarang atau tidak, sudah terlanjur untuk mundur. Sekali, tidak berhasil kemudian pada usahaku yang ketiga tubuh perempuan itu terlonjak. Mungkin sadar bila ada seseorang disampingnya. Mataku secara otomatis berstagnasi pada kilau aqua yang terpancar dari netranya. Kedua matanya mengerjap, Langit cerah. Cantik.
Shit ! Aku menutup mataku refleks, sebagai bagian pertahanan diri. Ini pertama kalinya aku menatap wajah Qengie secara utuh dalam jarak kurang dari satu meter. Apalagi matanya yang tak terbingkai kaca mata jauh lebih indah. Aku larut dalam pemikiranku sendiri.

"Ah, Maaf.."

Suaranya menggaung diudara. Aku kembali tertarik dalam realitas.

"Terimakasih sudah membangunkanku. Permisi."

Tidak sempat menjawab, bahkan memandang. Perempuan itu telah beranjak pergi. Interaksi singkat seperti ini apa memang bisa terjadi ? Sungguh canggung.

***
"... Apa ya, Qengie itu benar-benar istimewa. Dia punya tubuh yang menggoda. Dan tingkahnya yang berbeda dari perempuan lainnya. Entahlah aku tidak bisa mendeskripsikannya. Bagaimana menurutmu Loky ?"

Aku merotasikan kedua mataku. Sudah jelas kalau aku sama sekalu tidak tertarik. Smith nampak bersimpati pada Steve saudara kembarnya yang kulirik dengan kebencian.

"Lihat aku benarkan ? Dia sama sekali tidak tertarik dengan topik wanita kawan."

Edmund berlaku layaknya penengah. Dan apa-apaan nada suara yang jelas menyindir itu ? Aku tersinggung.

"Apa kalian tidak bisa membedakan waktu ? Ini jam kerja ingat !"

Ah, jika suaraku sudah tercerna telinga mereka sekejap sunyi senyaplah ruangan. Termasuk sosok ber earphone dengan rambut acak-acakan. Dia nampak kembali fokus pada dokumennya kembali ketimbang mengemil. Si mata empat. Mahluk hawa satu-satunya.

***
"Hai Loky."

Ada seukir senyum yang dia tebar kala kami berpapasan. Saat menuju kantin anak hawa itu nyatanya membuntuti hingga kemudian menepuk pundakku seolah itu adalah sebuah kebetulan.

"Kemarin aku tertolong, kalau tidak kau bangunkan pasti aku akan dimarahi bibi."

Cara makan yang tak beradab, juga air liur yang berterbangan saat dia mengunyah sekaligus bicara. Serius, dimana sisi feminime perempuan ini ?

"Itu bukan hal besar. Lebih dari itu aku harap kau membiarkanku pergi duluan. Nafsu makanku berkurang sekarang."

Aku harap dia tersinggung seperti perempuan pada umumnya. Namun yang kulihat justru tawa terbahak, kemudian senyuman lebar selepas tawanya menghilang dia persembahkan padaku. Bukankah itu sikap abnormal ?

"Aku harap kita bisa mengobrol lagi kapan-kapan."

Aku berlalu, tapi dengan jelas telingaku bisa mendengar teriakannya. Apa perempuan selalu begitu ? Merepotkan juga memalukan ? Mungkin yang kedua khusus untuk dia. Aku tak peduli.

Kemudian dalam waktu sebulan ada perubahan yang tiba-tiba melekat. Dalam delapan jam waktu yang kuhabiskan di kantor ada sekitar lima belas menit pasti terbuang hanya untuk mencuri pandang dari balik layar laptop. Menatap meja berantakan berisikan perempuan yang juga urakan. Kegiatan baru itu menjadi spesialisasi yang tak akan pernah kuberitahu pada siapapun.
Aku tak peduli.
Seharusnya tak peduli.
Namun sedikit demi sedikit malah membuka hati.
Kemudian peduli.
Hingga petang, seperti biasa aku memutuskan melakukan lembur.  Hitung-hitung kegiatan mengenyahkan bayang-bayang perempuan prasejarah itu dari pemikiran logisku. Akhir-akhir ini pun aku merasa bila sensivitasku meningkat khususnya ketika mendengar namanya berkumandang, atau sosoknya yang mulai terlihat lebih bersinar. Agak aneh, tapi entah mengapa aku menyukainya. Oke, anggap aku gila sekarang.

"Lembur ?"

Aku melirik, dan tersedak napasku sendiri. Orang yang hampir selama empat pekan mengganggu alam bawah sadarku malah berdiri angkuh sambil mengunyah permen karet. Kemudian meniupnya menjadi balon sampai pecah.

"Menurutmu ?"

Ketus. Aku terdiam, dia juga berada dalam posisinya serupa. Berbagai anggapan mulai tersimpul kemudian menciptakan sebuah konklusi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupku aku menyesal bernada seperti itu pada sang lawan bicara.

"Kau masih sama, tidakkah sikapmu akan menyulitkan ?"

"Apa pedulimu ?"

"Sejak awal aku peduli, kau berbeda dari orang-orang diruangan ini. Anggaplah semisal Steve, Edmund, atau juga Smith. Meski begitu kau tak melakukan pembedaan diluar kaummu."

Aku tak bisa menebak kemana arah pembicaraan ini. Tapi yang jelas sebersit senyum tipis menyambangi air mukaku. Ini terlalu natural, dan bukan berarti aku tak menyukainya. Hanya saja itu diluar imageku. Apa karena Qengie ?

"Sejak awal aku memang bukan bagian dari kumpulan idiot itu."

"Ah, iya aku tahu.."

Jeda kemudian seulas senyum tipis dia kembali pamerkan padaku. Apa benar Qengie seorang perempuan penebar senyum ? Jujur saja moment seperti ini tidak ingin kuhentikan.

"... Aku harus pulang."

Hak High heelsnya beradu dengan lantai. Mengantarku pada fakta bila perempuan itu sudah berlalu. Dengan segala kesadaran yang kupunya, dorongan yang kuat memotivasiku untuk sebisa mungkin menghentikan gerak dinamis itu. Menariknya dalam satu tarikan, terlalu spontan. Tidak seperti diriku yang biasa.

"Aku bawa mobil."

Aku tahu itu pernyataan yang sama sekali tidak berkaitan. Namun melihat perempuan itu berbalik, ada kupu-kupu berterbangan yang hinggap pada perutku. Gelenyar asing.

"Ya ?"

Mendekat, kemudian dengan keberanian dan ego serta harga diri yang kusingkirkan kudekap tubuh itu kemudian berbisik.

"I think i am in love."

FIN

Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 cara mengatasi galau

SC-RT 17