Fakta Orang Pendiam ketika menghadapi masalah
Setiap orang kerap memiliki masalahnya sendiri, dalam berbagai aspek kehidupan terlebih dalam hal pergaulan. Ada beberapa sudut pandang yang rupanya bersinggungan hingga akhirnya menjadi sebuah permasalahan yang membesar. Tergantung bagaimana kedua pihak menanggapi sebuah permasalahan. Hal tersebut juga berlaku kepada orang pendiam, yang publik kenal dengan orang tenang yang seolah tidak memiliki permasalahan apapun. Namun sekali lagi, hal tersebut tidaklah benar. Orang pendiam cenderung menutup permasalahannya dari muka umum. Meskipun itu menganggunya sekalipun. Dia tidak akan bercerita pada siapapun meski orang tersebut memaksanya untuk bicara. Ketertutupannya itulah yang kadang juga menjadi kendala dalam berhubungan sosial.
Jika berkata soal kepribadian segala hal akan
lebih kompleks. Dan karena memang setiap manusia dikarunia oleh Allah watak
berbeda. Ada yang tumbuh seiring berjalannya waktu dan pola pikir adapula yang
memang telah terlihat semenjak dini, dan juga didikan dari orangtua. Segala aspek
tersebut terlanjur terikat dan saling mempengaruhi.
Orang pendiam juga sering mendapat cobaan
berupa kalimat tidak mengenakan dari orang-orang sekitarnya. Terlebih tanggapan
dingin yang lebih kepada tidak menganggap keberadaannya. Image ‘sombong’ juga
kerap menjadi bagian dari dirinya meski dia sendiri tidak mengerti darimana
anggapan tersebut berasal. Hanya karena tidak bicara, apa hal tersebut termasuk
kedalam kategori sombong ?
Orang pendiam juga terlalu larut memikirkan
perasaan oranglain. Tidak berarti dirinya tidak memiliki masalah, namun dirinya
merasa tidak akan berguna mengatakannya pada oranglain. Sebab oranglain juga
memiliki masalahnya sendiri yang mesti mereka selesaikan juga. Meski tidak
menutup kemungkinan jika dengan bercerita akan meringankan beban masalah. Dia lebih
menikmati hidup sendirian. Menjadi pengamat kemudian mempelajari gerak-gerik
manusia disekitarnya. Membuat penilaian dengan ‘aku tak ingin menjadi seperti
itu’ atau dengan ‘aku ingin berubah dan menerapkan kebagusan dari orang itu’. Hal-hal
kecil seperti itu dia nikmati meski oranglain menanggapi hal itu dengan hal negative.
Tapi toh, setiap individu memiliki sudut pandangnya sendiri. Selama tidak
menyakiti dan mengganggu orang pendiam akan mengabaikannya sebagai angina lalu.
Masalah yang menyerang orang pendiam adalah
perkataan manusia. Lidah yang tajam sering membuatnya muak dan munculah
percikan diluar kepribadian. Kesabaran yang dipupuk setiap hari, runtuh dan dia
akan mengatakan hal-hal yang diluar kendalinya. Membalas perkataan kasar itu
dengan sesuatu yang menggigit tidak memandang oranglain itu dengan ‘penghargaan’
yang sepatutnya dia dapatkan.
Orang pendiam juga sering disalahpahami, tidak
banyak memiliki teman. Karena lingkaran pertemananya sempit, nyaman, dan intim.
Dan hanya kepada teman-temannyalah dia akan bersikap layaknya orang ekstrovert.
Penuh ekspresi dan tidak menutupi apapun. Orang pendiam juga tidak menuntut
banyak hal. Tak suka perdebatan dan lebih memilih kedamaian. Komentar miring
dan kritik yang lebih pada melecehkan dia terima bulat-bulat. Memikirkan ulang
kemudian berkaca pada tingkah laku yang dikritik orang tersebut padanya. Tapi jika
sedemikian ‘annoying’ ya, dia juga bisa bicara. Karena selama ini dia menutup
mulut bukan karena bisu. Tapi tidak mau kata-kata yang keluar dari mulutnya
malah hal-hal tidak berguna yang jatuhnya malah menimbulkan sakit hati.
Mengkategorikan oranglain dalam hitam dan
putih mudah untuknya, bahkan dalam pertemuan pertama. Meski menurut oranglain ‘baik’
tapi menurut orang pendiam kadang yang ‘baik’ itu hanya kedok. Dalamnya tidak.
Dan lagi apa salahnya menjadi orang yang
pendiam ? bukankah tidak merugikan siapapun ? jangankan mau mengganggu, bicara
saja jarang. Tapi toh, kenapa banyak sekali manusia diluar sana seenaknya
menggunakan mulut mereka untuk mencap oranglain harus begini harus begitu. Kenapa
mesti repot mengurusi urusan oranglain saat dirinya sendiri juga mesti banyak
perbaikan ? tidak ada jalan keluar untuk ini. Lebih pada tak ingin lagi
berpikir untuk masalah sepele memuakan seperti ini. (RR)

This is really-really like my mind 🙂
BalasHapus